pembukarizki_fatkhurrozi
Rabu, 15 April 2026
Senin, 01 April 2013
fungsi bermain bagi anak-anak
PERMAINAN UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN FISIK
MOTORIK MASA KANAK-KANAK
A.PENDAHULUAN
Dunia anak kecil merupakan dunia bermain, dimana
permainan dapat di butuhkan untuk membentuk karakter, bersosialisasi ataupun
membentuk kepribadian anak kecil. Dalam makalah ini, saya akan mencoba
menjelaskan tentang perkembangan pada fase anak kecil dan permainan / kegiatan
fisik yang dapat melatih kemampuan fisik dan motorik anak.
B.PEMBAHASAN
PENJELASAN
DAN PEMBAGIAN PERKEMBANGAN
1. Perkembangan Fisik
Pertumbuhan
fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak
lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi
terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot
dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya.
2. Perkembangan Motorik
Perkembangan
motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan
dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai
meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus
ketrampilan – ketrampilan motorik, anak – anak terus melakukan berbagai
aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan.
Disamping itu, anak – anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan
olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang,
dll.
3. Perkembangan Kognitif
Dalam keadaan
normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur – angsur.
Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan
egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang
lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat,
sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar.
Menurut teori
Piaget, pemikiran anak –
anak usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit
(Concret Operational Thought),
artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek – objek peristiwa
nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi
terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari
pancaindera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang
tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah
mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan
operasi – operasi, yaitu :
a). Negasi (Negation),
yaitu pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan –
hubungan antara benda atau
keadaan yag satu dengan benda atau keadaan yang lain.
b). Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui
hubungan sebab-akibat dalam suatu keadaan.
c). Identitas, yaitu anak sudah
mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.
Operasi yang terjadi dalam diri
anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa
perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki
struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu
tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.
a. Perkembangan
Memori
Selama periode
ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi,
memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya
keterbatasan – keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak
berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy),
yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori.
Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu :
- Rehearsal (Pengulangan)
: Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali
informasi yang telah disampaikan.
- Organization
(Organisasi) : Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan
untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama
teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
- Imagery
(Perbandingan) : Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik
pembayangan dari seseorang.
- Retrieval (Pemunculan
Kembali) : Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat
penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan
kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
Selain
strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori
anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan
motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.
b. Perkembangan
Pemikiran Kritis
Perkembangan
Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara
mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu
saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir
secara reflektif dan evaluatif.
c. Perkembangan Kreativitas
Dalam tahap
ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah.
d. Perkembangan
Bahasa
Selama masa
anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata
dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat
dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap
anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat
menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.
4. Perkembangan
Psikosial
Pada tahap ini,
anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan yang dapat
membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak
sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas,
yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak
belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling
memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang
berlaku. Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan
teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap
guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa
kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan
masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu
yang menarik perhatiannya.
a. Perkembangan
Pemahaman Diri
Pada tahap ini,
pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia
lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui
karakteristik eksternal.
c. Perkembangan Hubungan dengan Keluarga
Dalam hal ini,
orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka
berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena
rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman
sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk
mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.
d. Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Berinteraksi
dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya
mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya
dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak tidak lagi puas bermain
sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai kenginan kuat untuk diterima
sebagai anggota kelompok.
BENTUK
PERMAINAN FISIK MOTORIK PADA ANAK
Masa
lima tahun pertama pertumbuhan dan perkembangan anak sering disebut sebagai
masa keemasan karena pada masa itu keadaan fisik maupun segala kemampuan anak
sedang berkembang dengan pesat. Salah satu kemampuan yang sedang pesat
berkembang adalah kemampuan motorik. Proses tumbuh kembang kemampuan motorik
anak berhubungan dengan kemampuan gerak anak yang dapat terlihat jelas dengan
berbagai gerakan dan ragam permainan yang dapat dilakukan anak.
Berikut ini,macam-macam ragam permainan yang dapat melatih kemampuan fisik serta motorik pada anak :
Berikut ini,macam-macam ragam permainan yang dapat melatih kemampuan fisik serta motorik pada anak :
1.
Menjala Ikan
Bertujuan meningkatkan kemampuan ketrampilan gerak anak, juga menyalurkan hasrat bergerak dan menciptakan suasana gembira pada anak-anak. Pelaksanaannya: 2-3 anak di suruh bergandengan tangan dan berperan sebagai jala ikan. Sedangkan anak-anak lainnya berperan sebagai ikan. Mereka yang berperan sebagai ikan bebas berlarian di lapangan ataupun dalam ruangan. Bila ada tanda (peluit atau hitungan atau tepukan tangan) dari guru anak-anak yang berperan sebagai jala harus berusaha menangkap ikan (anak-anak yang berlarian dalam ruangan/lapangan) sebanyak-banyaknya dengan cara mengurungnya dalam lingkaran tangan. Usahakan jala jangan tercerai berai. Sedangkan anak yang berperan sebagai ikan berusaha lari menghindar jangan sampai tertangkap. Anak-anak yang telah tertangkap ikut bergabung sebagai jala, sehingga semakin lama jala semakin lebar. Sedangkan ikan yang harus ditangkap semakin sedikit. Permainan berakhir jika sudah tidak ada ikan yang perlu di tangkap lagi.
Permainan ini dapat dimodifikasi dengan memasang beberapa kelompok anak (2-3 pasang) sebagai jala. Lalu kelompok jala ini saling bersaing untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya.
Bertujuan meningkatkan kemampuan ketrampilan gerak anak, juga menyalurkan hasrat bergerak dan menciptakan suasana gembira pada anak-anak. Pelaksanaannya: 2-3 anak di suruh bergandengan tangan dan berperan sebagai jala ikan. Sedangkan anak-anak lainnya berperan sebagai ikan. Mereka yang berperan sebagai ikan bebas berlarian di lapangan ataupun dalam ruangan. Bila ada tanda (peluit atau hitungan atau tepukan tangan) dari guru anak-anak yang berperan sebagai jala harus berusaha menangkap ikan (anak-anak yang berlarian dalam ruangan/lapangan) sebanyak-banyaknya dengan cara mengurungnya dalam lingkaran tangan. Usahakan jala jangan tercerai berai. Sedangkan anak yang berperan sebagai ikan berusaha lari menghindar jangan sampai tertangkap. Anak-anak yang telah tertangkap ikut bergabung sebagai jala, sehingga semakin lama jala semakin lebar. Sedangkan ikan yang harus ditangkap semakin sedikit. Permainan berakhir jika sudah tidak ada ikan yang perlu di tangkap lagi.
Permainan ini dapat dimodifikasi dengan memasang beberapa kelompok anak (2-3 pasang) sebagai jala. Lalu kelompok jala ini saling bersaing untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya.
2.
Mencari pasangan
Bertujuan meningkatkan kemampuan anak dalam berhitung.
Pelaksanaannya: ajaklah anak-anak membentuk lingkaran. Setelah dilakukan pemanasan, ajaklah anak berkeliling dalam lingkaran dengan menyanyikan lagu Pak Pung Pak Mustape sambil bertepuk tangan. (Syair: Pak Pung Pak Mustape, tapene enak dewe, ayo konco rame-rame golek bolo dewe-dewe). Pada akhir lagu guru memberi tanda bisa dengan tangan atau kartu angka. Misalnya angka 3. Maka tiap-tiap anak harus berusaha mencari teman sebanyak tiga anak. Bagi yang tidak mendapatkan teman, anak bisa di beri hukuman dengan misalnya di suruh menyanyi.
Bertujuan meningkatkan kemampuan anak dalam berhitung.
Pelaksanaannya: ajaklah anak-anak membentuk lingkaran. Setelah dilakukan pemanasan, ajaklah anak berkeliling dalam lingkaran dengan menyanyikan lagu Pak Pung Pak Mustape sambil bertepuk tangan. (Syair: Pak Pung Pak Mustape, tapene enak dewe, ayo konco rame-rame golek bolo dewe-dewe). Pada akhir lagu guru memberi tanda bisa dengan tangan atau kartu angka. Misalnya angka 3. Maka tiap-tiap anak harus berusaha mencari teman sebanyak tiga anak. Bagi yang tidak mendapatkan teman, anak bisa di beri hukuman dengan misalnya di suruh menyanyi.
3.
Elang dan Anak Ayam
Tujuan: melatih kemampuan anak untuk mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: bagi anak menjadi beberapa kelompok. Paling banyak anggotanya berjumlah sepuluh tiap kelompok. Dalam satu kelompok pilih satu untuk berperan sebagai elang, sedangkan yang lin berperan sebagai ayam. Bariskan anak-anak yang berperan sebagai ayam. Tiap anak berpegangan pada pundak teman didepannya. Anak yang paling depan berperan sebagai induk ayam dan bertugas melindungi anak ayam dari kejaran burung elang dengan cara merentangkan kedua tangan. Burung elang bebas menangkap anak ayam yang paling belakang. Anak ayam yang tertangkap harus keluar dari barisan. Usahakan barisan anak ayam jangan sampai terputus. Permainan berakhir jika sudah tidak ada anak ayam yang tersisa. Setelah itu bisa diganti dengan kelompok berikutnya.
4. Kucing dan Tikus
Tujuan: melatih kemampuan anak mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: ajak anak-anak membentuk lingkaran dengan bergandengan tangan. Pilih dua orang anak yang akan berperan sebagai tikus dan salah satunya sebagai kucing. Tikus ini mulanya berada dalam lingkaran, sedangkan sang kucing berada di luar lingkaran. Pada saat aba-aba di mulai kucing berupaya menangkap tikus dengan cara memasuki lingkaran. Tikus berusaha menghindar. Namun yang berperan sebagai lingkaran hendaknya berusaha menutup jalan agar kucing tidak bisa masuk dalam lingkaran. Sebaliknya membebaskan sang tikus untuk keluar masuk lingkaran. Cara lingkaran menutup jalan kucing adalah dengan berjongkok jika kucing berusaha melewati bawah gandengan tangan, dan berdiri jika kucing berusaha melompati gandengan tangan. Permainan berakhir jika tikus sudah tertangkap.
5. Tepuk bersama
Tujuan: melatih koordinasi tangan dan kekompakan.
Pelaksanaannya: anak-anak membentuk dua barisan yang saling berhadapan. Kemudian ajak mereka bertepuk tangan dan saling bertukar tepuk dengan anak dihadapannya. Cara tepuk, mula-mula anak bertepuk sendiri satu kali kemudian tepukkan tangan kanan ke tangan kanan teman yang ada didepannya, lanjutkan dengan tangan kiri, tangan memegang bahu, bertepuk tangan sendiri, arahkan tangan kanan ke tangan kanan teman didepan, ganti tangan kiri dan seterusnya. Tepuk bisa dibuat lebih bervariasi. Anak-anak senang melakukan tepuk ini.
6. Permainan Hitam-Hijau
Tujuan: melatih kecepatan lari dan bereaksi
Siapkan lapangan segiempat. garis batas bisa dibuat dengan kapur atau tali. Bagi lapangan menjadi dua. Lalu pada masing-masing bagian siapkan garis bebas dekat sisi terluar lapangan.
Pelaksanaan permainan: bagi anak menjadi dua regu. Regu hitam dan regu hijau. Bariskan kedua regu di tengah lapangan. Masing-masing anak berhadapan satu sama lain. Tugas setiap regu adalah memperhatikan/mendengarkan nama baris yang disebutkan guru. Bila guru menyebut, Hiii…jau, berarti Hijau harus segera berlari meninggalkan tempatnya menuju garis bebas. Sedangkan baris hitam berusaha menangkap pasangan dari baris hijau sebelum melewati garis bebas. Dan begitu pula sebaliknya untuk baris hitam. Pemenangnya adalah regu yang anggotanya paling sedikit tertangkap.
7. Permainan Lintang Ngaleh (Bintang Berpindah)
Tujuan: Melatih kecepatan lari dan bereaksi.
Bagi anak dalam kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 2 atau 3 anak. Namun dalam pembagian kelompok harus menyisakan dua anak yang berperan sebagai bintang berpindah dan bintang pengejar. Tiap-tiap kelompok berbaris dua-dua atau tiga kebelakang. Saat peluit permainan dimulai, anak yang berperan sebagai bintang berpindah di kejar oleh bintang pengejar. Untuk menhindari kejaran kemudian bintang berpindah hinggap pada salah satu kelompok bintang. Dan kelompok bintang yang dihinggapi salah satu anggotanya harus berlari untuk untuk menghindari tangkapan dari bintang pengejar. Bila bintang berpindah tertangkap dia harus berganti peran menjadi bintang pengejar.
Tujuan: melatih kemampuan anak untuk mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: bagi anak menjadi beberapa kelompok. Paling banyak anggotanya berjumlah sepuluh tiap kelompok. Dalam satu kelompok pilih satu untuk berperan sebagai elang, sedangkan yang lin berperan sebagai ayam. Bariskan anak-anak yang berperan sebagai ayam. Tiap anak berpegangan pada pundak teman didepannya. Anak yang paling depan berperan sebagai induk ayam dan bertugas melindungi anak ayam dari kejaran burung elang dengan cara merentangkan kedua tangan. Burung elang bebas menangkap anak ayam yang paling belakang. Anak ayam yang tertangkap harus keluar dari barisan. Usahakan barisan anak ayam jangan sampai terputus. Permainan berakhir jika sudah tidak ada anak ayam yang tersisa. Setelah itu bisa diganti dengan kelompok berikutnya.
4. Kucing dan Tikus
Tujuan: melatih kemampuan anak mengejar dan menghindar.
Pelaksanaannya: ajak anak-anak membentuk lingkaran dengan bergandengan tangan. Pilih dua orang anak yang akan berperan sebagai tikus dan salah satunya sebagai kucing. Tikus ini mulanya berada dalam lingkaran, sedangkan sang kucing berada di luar lingkaran. Pada saat aba-aba di mulai kucing berupaya menangkap tikus dengan cara memasuki lingkaran. Tikus berusaha menghindar. Namun yang berperan sebagai lingkaran hendaknya berusaha menutup jalan agar kucing tidak bisa masuk dalam lingkaran. Sebaliknya membebaskan sang tikus untuk keluar masuk lingkaran. Cara lingkaran menutup jalan kucing adalah dengan berjongkok jika kucing berusaha melewati bawah gandengan tangan, dan berdiri jika kucing berusaha melompati gandengan tangan. Permainan berakhir jika tikus sudah tertangkap.
5. Tepuk bersama
Tujuan: melatih koordinasi tangan dan kekompakan.
Pelaksanaannya: anak-anak membentuk dua barisan yang saling berhadapan. Kemudian ajak mereka bertepuk tangan dan saling bertukar tepuk dengan anak dihadapannya. Cara tepuk, mula-mula anak bertepuk sendiri satu kali kemudian tepukkan tangan kanan ke tangan kanan teman yang ada didepannya, lanjutkan dengan tangan kiri, tangan memegang bahu, bertepuk tangan sendiri, arahkan tangan kanan ke tangan kanan teman didepan, ganti tangan kiri dan seterusnya. Tepuk bisa dibuat lebih bervariasi. Anak-anak senang melakukan tepuk ini.
6. Permainan Hitam-Hijau
Tujuan: melatih kecepatan lari dan bereaksi
Siapkan lapangan segiempat. garis batas bisa dibuat dengan kapur atau tali. Bagi lapangan menjadi dua. Lalu pada masing-masing bagian siapkan garis bebas dekat sisi terluar lapangan.
Pelaksanaan permainan: bagi anak menjadi dua regu. Regu hitam dan regu hijau. Bariskan kedua regu di tengah lapangan. Masing-masing anak berhadapan satu sama lain. Tugas setiap regu adalah memperhatikan/mendengarkan nama baris yang disebutkan guru. Bila guru menyebut, Hiii…jau, berarti Hijau harus segera berlari meninggalkan tempatnya menuju garis bebas. Sedangkan baris hitam berusaha menangkap pasangan dari baris hijau sebelum melewati garis bebas. Dan begitu pula sebaliknya untuk baris hitam. Pemenangnya adalah regu yang anggotanya paling sedikit tertangkap.
7. Permainan Lintang Ngaleh (Bintang Berpindah)
Tujuan: Melatih kecepatan lari dan bereaksi.
Bagi anak dalam kelompok-kelompok kecil. Satu kelompok terdiri dari 2 atau 3 anak. Namun dalam pembagian kelompok harus menyisakan dua anak yang berperan sebagai bintang berpindah dan bintang pengejar. Tiap-tiap kelompok berbaris dua-dua atau tiga kebelakang. Saat peluit permainan dimulai, anak yang berperan sebagai bintang berpindah di kejar oleh bintang pengejar. Untuk menhindari kejaran kemudian bintang berpindah hinggap pada salah satu kelompok bintang. Dan kelompok bintang yang dihinggapi salah satu anggotanya harus berlari untuk untuk menghindari tangkapan dari bintang pengejar. Bila bintang berpindah tertangkap dia harus berganti peran menjadi bintang pengejar.
C.KESIMPULAN
Dalam
masa kanak-kanak dapat diajarkan beragam jenis permainan yang bertujuan untuk
mengembangkan kemampuan fisik, motorik, kognitif, dan psikososial.Jadi, di masa
kanak-kanak ini bermain merupakan salah satu faktor utama untuk menunjang
tercapainya perkembangan tersebut, di samping adanya kontrol dan bimbingan dari
orang tua .
Di
sini,orang tua di tuntut selektif memilih permainan apa yang tepat dan boleh di
lakukan anaknya.
Kamis, 28 Maret 2013
solusi mengatasi keterbatasan alat pembelajaran
SOLUSI YANG HARUS DI LAKUKAN JIKA
TIDAK ADA ALAT PEMBELAJARAN
A.PENDAHULUAN
Seringkali
seorang guru Pendidikan Jasmani atau penjas mengeluhkan keadaan sarana dan
prasarana sekolah tempat ia mengajar tidak adanya alat pembelajaran. Terkadang,
seorang guru penjas harus “bertengkar” dengan kepala sekolah atau kepsek untuk
menyediakan fasilitas olahraga di sekolah. Sementara menurut pemikiran sebagian
orang, pelajaran penjas tidak begitu penting, mengingat pelajaran tersebut
tidak masuk dalam ujian nasional (UN) atau ujian akhir berstandar nasional
(UASBN). Jadilah pelajaran penjas menjadi “anak tiri” di sekolah, sehingga
kurang mendapat perhatian yang serius.Kita tidak perlu menjelaskan panjang
lebar tentang peran sentral pelajaran penjas dalam mendukung proses pendidikan
secara menyeluruh. Tulisan ini lebih menekankan peran guru penjas, agar lebih
kreatif dan inovatif untuk memodifikasi pembelajaran penjas dengan segala
keterbatasan sarana dan prasarana serta kurangnya/tidak tersedianya alat
pembelajaran yang dimiliki sekolah.
Harus
disadari bahwa keterbatasan alat pembelajaran olahraga di sekolah sangat
bervariasi antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Jika sekolah memiliki
fasilitas olahraga yang lengkap, sudah tentu tidak menjadi persoalan bagi sang
guru. Masalahnya, kita masih menemukan sekolah dengan sarana dan prasarananya
yang sangat terbatas.
Menurut
Undang-undang Sistem Keolahragaan Naional (UU SKN) No. 3 Tahun 2005 pasal 20
dan 21 Sarana olahraga adalah peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk
kegiatan olahraga. Sementara prasarana olahraga adalah tempat atau ruang
termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan olahraga dan/ atau
penyelenggaraan keolahragaan. Berdasarkan UU SKN tersebut dapat dijelaskan
bahwa sarana meliputi peralatan dan perlengkapan yang dipergunakan seperti bola
kaki, bola voli, bola kasti, bola takraw, bola basket, papan pantul ring
basket, tiang voli beserta netnya, raket bulu tangkis beserta netnya, meja
tenis meja beserta betnya, tongkat estafet, peluru untuk tolak peluru, lembing,
bak lompat jauh, gawang futsal, matras dan peralatan lainnya. Sementara
prasarana meliputi ruangan atau lapangan yang dapat digunakan untuk melakukan
aktifitas olahraga yang akan dilakukan.
Berikut
ini akan di jelaskan mengenai modifikasi pembelajaran yang dapat di jadikan
solusi untuk mengatasi tidak adanya alat pembelajaran serta tidak tersedianya
sarana dan prasarana:
B.PEMBAHASAN
MODIFIKASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
Modifikasi pembelajaran pendidikan jasmani penulis anggap penting untuk diketahui oleh para guru pendidikan jasmani. Diharapkan dengan mereka dapat menjelaskan pengertian dan konsep modifikasi, menyebutkan apa yang dimodifikasi dan bagaimana cara memodifikasinya, menyebutkan dan menerangkan beberapa aspek analisis modifikasi.
Dalam penyelenggaraan program pendidikan jasmani hendaknya mencerminkan karakteristik program pendidikan jasmani itu sendiri, yaitu “ Developentally Appropriate Practice” (DAP).
Modifikasi pembelajaran pendidikan jasmani penulis anggap penting untuk diketahui oleh para guru pendidikan jasmani. Diharapkan dengan mereka dapat menjelaskan pengertian dan konsep modifikasi, menyebutkan apa yang dimodifikasi dan bagaimana cara memodifikasinya, menyebutkan dan menerangkan beberapa aspek analisis modifikasi.
Dalam penyelenggaraan program pendidikan jasmani hendaknya mencerminkan karakteristik program pendidikan jasmani itu sendiri, yaitu “ Developentally Appropriate Practice” (DAP).
Artinya
bahwa tugas ajar yang disampaikan harus memerhatikan perubahan kemampuan atau
kondisi anak, dan dapat membantu mendorong kea rah perubahan tersebut. Dengan
demikian tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan dan
tingkat kematangan anak didik yang diajarnya. Perkembangan atau kematangan yang
dimaksud mencakup fisik, psikis maupun keterampilannya.
Tugas ajar itu juga harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik individu dan mendorongnya kea rah perubahan yang lebih baik.
a. Pernahkah anda membayangkan apakah kita mampu mengakomodasi setiap perubahan
dan perbedaan karakteristik siswa melalui tugas ajar yang kita berikan ?
b. Apakah keadaan media pembelajaran yang dimiliki sekolah anda bias memfasilitasi
aktivitas pembelajaran pendidikan jasmani secara optimal ?
c. Perlukah kita mengadakan perubahan, penataan atau mengembangkan kemampuan daya
dukung pendidikan jasmani di sekolah kita ?
Tugas ajar itu juga harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik individu dan mendorongnya kea rah perubahan yang lebih baik.
a. Pernahkah anda membayangkan apakah kita mampu mengakomodasi setiap perubahan
dan perbedaan karakteristik siswa melalui tugas ajar yang kita berikan ?
b. Apakah keadaan media pembelajaran yang dimiliki sekolah anda bias memfasilitasi
aktivitas pembelajaran pendidikan jasmani secara optimal ?
c. Perlukah kita mengadakan perubahan, penataan atau mengembangkan kemampuan daya
dukung pendidikan jasmani di sekolah kita ?
d. Upaya apa yang bias kita lakukan
agar proses pembelajaran pendidikan jasmani
tersebut bisa memberikan hasil yang lebih baik ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering muncul manakala kita merenungi tugas kita sebagai seorang guru pendidikan jasmani yang cukup berat.
tersebut bisa memberikan hasil yang lebih baik ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering muncul manakala kita merenungi tugas kita sebagai seorang guru pendidikan jasmani yang cukup berat.
KONSEP MODIFIKASI
Modifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses pembelajaran dapat mencerminkan DAP. Esensi modifikasi adalah menganalisis sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya.
Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan tercermin dari aktivitas pembelajarannya yang diberikan guru mulai awal hingga akhir pelajaran. Selanjutnya guru-guru pendidikan jasmani juga harus mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tahu bagaimana cara memodifikasinya. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan berikut harus dipahami dengan sebaik-baiknya.
Modifikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh para guru agar proses pembelajaran dapat mencerminkan DAP. Esensi modifikasi adalah menganalisis sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya.
Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan tercermin dari aktivitas pembelajarannya yang diberikan guru mulai awal hingga akhir pelajaran. Selanjutnya guru-guru pendidikan jasmani juga harus mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tahu bagaimana cara memodifikasinya. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan berikut harus dipahami dengan sebaik-baiknya.
a. Apa yang dimodifikasi ?
Beberapa aspek analisis modifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan guru tentang tujuan,karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan evaluasinya.
Disamping pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang tujuan, karakteristik, materi, kondisi lingkungan, dan evaluasi, keadaan sarana, prasarana dan media pengajaran pendidikan jasmani yang dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri.
Beberapa aspek analisis modifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan guru tentang tujuan,karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan evaluasinya.
Disamping pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang tujuan, karakteristik, materi, kondisi lingkungan, dan evaluasi, keadaan sarana, prasarana dan media pengajaran pendidikan jasmani yang dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri.
Dalam
melaksanakan tugasnya sehari-hari yang paling dirasakan oleh para guru
pendidikan jasmani adalah hal-hal yang berkaitan dengan sarana serta prasarana
pendidikan jasmani yang merupakan media pembelajaran pendidikan jasmani sangat
diperlukan.
Minimnya sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut seorang guru pendidikan jasmani untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada. Seorang guru pendidikan jasmani yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, atau memodifikasi yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang semenarik mungkin, sehingga anak didik akan merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan. Banyak hal-hal sederhana yang dapat dilakukan oleh guru pendidikan jasmani untuk kelancaran jalannya pendidikan jasmani.
Guru pendidikan jasmani di lapangan tahu dan sadar akan kemampuannya. Namun apakah mereka memiliki keberanian untuk melakukan perubahan atau pengembangan – pengembangan kea rah itu dengan melakukan modifikasi ?
Seperti halnya halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada dilingkungan sekolah, sebenarnya dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani.
Dengan melakukan modifikasi sarana maupun prasarana, tidak akan mengurangi aktivitas siswa dalam melaksanakan pelajaran pendidikan jasmani. Bahkan sebaliknya, karena siswa bisa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, melalui pendekatan bermain dalam suasana riang gembira. Jangan lupa bahwa kata kunci pendidikan jasmani adalah “Bermain – bergerak – ceria”.
b. Mengapa Dimodifikasi ?
Lutan (1988) menyatakan : modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar :
a) Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran
b) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi
c) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak.
Menurut Aussie (1996), pengembangan modifikasi di Australia dilakukan dengan pertimbangan:
a) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa;
b) Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi
cedera pada anak;
c) Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat
dibanding dengan peralatan standar untuk orang dewasa, dan
d) Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak
dalam situasi kompetitif.
Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani, oleh karenanya pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.
Minimnya sarana dan prasarana pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut seorang guru pendidikan jasmani untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan sarana dan prasarana yang ada. Seorang guru pendidikan jasmani yang kreatif akan mampu menciptakan sesuatu yang baru, atau memodifikasi yang sudah ada tetapi disajikan dengan cara yang semenarik mungkin, sehingga anak didik akan merasa senang mengikuti pelajaran penjas yang diberikan. Banyak hal-hal sederhana yang dapat dilakukan oleh guru pendidikan jasmani untuk kelancaran jalannya pendidikan jasmani.
Guru pendidikan jasmani di lapangan tahu dan sadar akan kemampuannya. Namun apakah mereka memiliki keberanian untuk melakukan perubahan atau pengembangan – pengembangan kea rah itu dengan melakukan modifikasi ?
Seperti halnya halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan sebagainya yang ada dilingkungan sekolah, sebenarnya dapat direkayasa dan dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani.
Dengan melakukan modifikasi sarana maupun prasarana, tidak akan mengurangi aktivitas siswa dalam melaksanakan pelajaran pendidikan jasmani. Bahkan sebaliknya, karena siswa bisa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, melalui pendekatan bermain dalam suasana riang gembira. Jangan lupa bahwa kata kunci pendidikan jasmani adalah “Bermain – bergerak – ceria”.
b. Mengapa Dimodifikasi ?
Lutan (1988) menyatakan : modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar :
a) Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran
b) Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi
c) Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada dalam kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik anak.
Menurut Aussie (1996), pengembangan modifikasi di Australia dilakukan dengan pertimbangan:
a) Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa;
b) Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi
cedera pada anak;
c) Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan anak lebih cepat
dibanding dengan peralatan standar untuk orang dewasa, dan
d) Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak
dalam situasi kompetitif.
Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani, oleh karenanya pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.
BENTUK-BENTUK
MODIFIKASI DALAM PENJAS
Pertama, kita
membahas modifikasi peraturan permainan olahraga yang telah banyak dilakukan
guru-guru penjas, bahkan telah dipertandingkan antar sekolah. Misalnya sepak
bola menjadi sepakbola mini, bola voli menjadi bola voli mini, bola basket
menjadi bola basket mini, tenis menjadi tenis mini dan nomor-nomor pada cabang
olahraga atletik seperti nomot sprint 100 meter menjadi 60 meter, lempar
lembing diganti dengan lempar roket, sepak takraw diganti dengan kenchi/ bulu
ayam, dan nomor-nomor atletik yang digabung-gabung menjadi tri-lomba (lari
sprint, lompat kodok 3x dan lempar roket).
Kedua,
modifikasi olahraga tradisional/ rakyat yang kurang mendapat perhatian serius
atau terabaikan oleh guru-guru penjas. Banyak jenis olahraga tradisional yang
sangat mengasyikkan bagi siswa, seperti galasin/ gerobak sodor/ galah panjang,
pecah piring, enggrang, permainan karet, gotri, sambar elang, lari goni, lari
guli, terompah bajak, alip berondok, kuda tunggang, batu locak dan lain
sebagainya. Kesemua jenis permainan olahraga tradisional ini tetap memiliki dan
mengarah pada peningkatan aspek physical conditioning siswa, seperti kecepatan,
kekuatan, daya tahan, kelincahan, kelentukan, keseimbangan, daya ledak dan
ketepatan. Bukankan hakikat pembelajaran pendidikan jasmani meningkatkan
kebugaran siswa?
Ketiga,
melakukan kegiatan aktivitas outbound yang yang lagi trend saat ini, dan sudah
mulai dilaksanakan oleh beberapa sekolajh. Kita tidak perlu melakukan aktivitas
outbound ke lokasi wisata yang jauh dari sekolah, sehingga menguras keuangan
siswa. Karena aktivitas outbound dapat juga dilakukan di lokasi sekolah dan yang
pasti tidak kalah serunya dengan lokasi wisata. Jenis-jenis aktivitas outbound
yang dapat dilakukan di sekolah seperti field trap, water fall, blind army,
happy king, moving carpet, borgol hands, hole trap, step with stone, dragon
ball, mendulang emas, ban titian, pasak bumi, botol ajaib, tali kubus, bola
bisu, lari lambat, panjang-panjangan, bangku bisu, transfer air, pipa bocor dan
jenis lainnya. Sesekali jika memungkinkan, siswa dapat diajak ke alam bebas
untuk memainkannya serta ditambah dengan aktivitas low and high rope yang lebih
menantang, seperti flying fox, rafling, titian dewa, rafting, dan tracking
Keempat, upaya
guru penjas menciptakan olahraga baru yang relevan dengan tujuan pembelajaran
penjas. Walau terasa cukup berat, namun bukan mustahil guru-guru penjas dapat
menciptakan olahraga baru yang lebih kreatif lagi. Saat ini telah banyak
guru-guru penjas yang membentuk perkumpulan-perkumpulan atau organisasi,
seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) Penjas, Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia
(Isori) dan banyak perkumpulan lainnya. Perkumpulan-perkumpulan guru penjas ini
telah bergera melakukan pembahasan-pembahasan dan pemutakhiran model
pembelajaran penjas. Diharapkan langkah tepat yang sudah dilakukan dapat di
follow-up lagi untuk mewujudkan penciptaan jenis olahraga baru. Kenapa tak
mungkin?
Sudah saatnya guru penjas berhenti mengeluhkan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Jangan sampai, guru penjas melakukan aksi memusuhi kepala sekolah, hanya karena penolakan-penolakan atas proposal penyediaan sarana dan prasarana yang kita tawarkan. Sekali lagi, guru penjas tidak boleh menyerah dengan kondisi sekolah yang serba terbatas. Karena selama kita berfikir maka eksistensi dan kreativitas kita akan selalu ada. Yakinlah bahwa pelajaran penjas bukanlah pelajaran yang menjadi “anak tiri“ di sekolah. Karena selagi murid masih bersorak gembira atas kehadiran kita untuk membawakan pelajaran penjas, itu artinya menjadi tantangan bagi kita untuk menyahuti keinginan bermain para siswa.
Sudah saatnya guru penjas berhenti mengeluhkan keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Jangan sampai, guru penjas melakukan aksi memusuhi kepala sekolah, hanya karena penolakan-penolakan atas proposal penyediaan sarana dan prasarana yang kita tawarkan. Sekali lagi, guru penjas tidak boleh menyerah dengan kondisi sekolah yang serba terbatas. Karena selama kita berfikir maka eksistensi dan kreativitas kita akan selalu ada. Yakinlah bahwa pelajaran penjas bukanlah pelajaran yang menjadi “anak tiri“ di sekolah. Karena selagi murid masih bersorak gembira atas kehadiran kita untuk membawakan pelajaran penjas, itu artinya menjadi tantangan bagi kita untuk menyahuti keinginan bermain para siswa.
C.KESIMPULAN
Tidak
tersedianya alat pembelajaran tidaklah menjadi alas an guru penjas dalam
mengajar. Guru penjas dituntut kreatif dan inovatif untuk mengatasi hal
tersebut. Salah satu hal yang dapat di lakukan salah satu diantaranya adalah
melakukan modifikasi pembelajaran
D.SUMBER:
TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI PEMBELAJARAN
TENTANG SOLUSI YANG DAPAT DI
LAKUKAN UNTUK MENGATASI TIDAK ADANYA ALAT PEMBELAJARAN

Disusun
oleh :
NAMA
: Fatkhur Rozi
NIM : K4610038
JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN
KESEHATAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
Langganan:
Komentar (Atom)